Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label PUISI

Dari Ar; Ini Aku

Aku bukan sang yang tampil gagah saban pagi dengan senyum cemerlang menyambutmu Aku bukan sang yang diam di kursi berpangku diri menunggumu Aku bukan sang yang senantiasa sedia berjalan bersisian denganmu Aku bukan sang yang berkoar-koar meneriakkan rindu ketika sekelabat saja kamu tak kutemukan Aku bukan sang yang jumpalitan mencari hati ketika malam bercengkerama dengan purnama Ini aku Hanya aku yang mencintai tanpa puisi Memberi sayang dalam selipan Menyuarakan rindu serta menyemat wajahmu dalam doa-doa Ini aku Hanya aku yang menginginkanmu tapi takut membuatmu tak bahagia Pada suatu pagi di sutu tempat bernama rindu

Mengapa Kita Harus Menangis Bila Sepi Melanda?

Oleh: Fatmalilia Atha Azzahra Mengapa kita harus menangis ketika sepi melanda, Ar? Bukankah hidup manusia adalah jalan yang sepi. Bahkan untuk menganasir tawa dan diammu ialah sepi bagiku Kita terkadang hanya tidak biasa, apalagi setelah seseorang mengisi hari-harimu, tertawa bersamamu, dan mencoba menjadi bagian dari hidupmu. Tapi waktu untuk saling mengisi hari perlahan-lahan berkurang sebab kesibukan sehari-hari menyisakan percakapan-percakapan beku, pertemuan yang dingin, dan bisu yang mematikan Mengapa kita harus menangis ketika sepi melanda, Ar? Sebab sebahagia apapun kita, Seduka apapun kita Kita sendirilah yang harus menanggungnya.. Rumah, 18 Mei 2016 Sepi. Rindu tapi sendiri

Surat Untuk Kekasih

Oleh : Fatmalilia Atha Azzahra Aku gelisah, Sayang Ketika mataku terbuka dan aku lupa mengingatMu kalaupun mengingat, sering tak kusempatkan buat menyapa barang sebentar. Lantas dengan naif berpikir kamu selalu mengerti kalau aku sibuk Aku takut, Sayang Ketika bangun pagi dan kedamaian subuh gagal kuresapi di kedalaman jiwa Aku rindu malam-malam kita berbicara banyak hal dalam sunyi Sementara kata-kataMu selalu menyentuh bening jiwa Aku rindu menangis di haribaanmu, Sayang kamu mendengarku tanpa keluh Kita mengayam sunyi disaksikan malaikat hingga aku lelap Aku rindu, Sayang Rindu teramat sangat Rindu yang pelan-pelan tidak pernah selesai yang kian hari bertumpuk hingga membuat nelangsa Aku ingin pulang, Sayang Pulang.. 14 Desember 2015

Mencari Sebuah Senyuman

Oleh : Fatmalilia Atha Azzahra Ma, aku hampir putus asa mencari selembar senyum yang terbit dari kedalaman hati Senyum yang menyembuhkan si sakit Senyum yang mendamaikan si resah Senyum yang tanpa tanda tanya di belakangnya Ma, aku menemukan senyum dengan bergelintir-gelintir predikat menyertainya Senyum tanggung Senyum kecut Senyum pelecut Bahkan ada itu senyum sinis Senyum berkalang tangis Senyum licik Seluruhnya palsu, Ma Mereka tersenyum tapi hatinya tidak ikut tersenyum Ma, aku merindukan tawa kita bergema Saat dunia masih selebar senyuman Saat semua senyum tak punya nilai Selain senyum itu sendiri Ma, aku hampir putus asa. Jatuh bangun, tertatih-tatih dalam petualangan Mencari sebuah senyuman -2015

Mati Rasa

Aku diam, tenggelam dalam bisu Hilang sudah gejolak rindu Hilang sudah tangis pilu Tak ada lagi bekas teriris sembilu Badai telah lama berlalu Laut kembali tenang Aku diam, menyelam dalam sunyi Sia-sia mencari Sia-sia menggapai Palung hitam kelam itu tak beriak lagi Aku menyelam, berputar, berkeliling Tak tau lagi jalan kembali Aku diam, mengakrabi diri Bulan telah terbenam Ombak tak lagi bergemuruh, bintang tiada. Gelisah itu sudah lama pergi Rindu tak lagi menyiksa Semangatku padam Senyumku hilang Aku mati rasa.. Ruang Rindu, 12 juni 2014

HUJAN #3

Fajar Belum lagi menyingsing Kala hujan mengguyur gubuk sempitnya Lalu dia bergumam dalam tidurnya “Tuhan, tumpahkan saja semua hujanmu sebelum pagi.” Fajar Entah dimana ia bersembunyi Azan subuh telah berkumandang tapi langit masih tampak kelabu Hujan masih enggan pergi Kudengar lagi ia berdoa di penghujung sholatnya “Tuhan, bukan aku tidak bersyukur. Tapi tangguhkanlah hujanmu sampai aku tiba di sekolah, aku tidak punya payung Tuhan.” Fajar Mungkin sudah pergi Tapi hujan tak kunjung jua pergi Tak ada payung, tak ada daun pisang Yang ada gedung bertingkat saling menghimpit gubuknya Tetiba ia bergumam lagi “Tuhan, aku masih punya kantung kresek. Akan kubungkus buku dan pakain sekolahku.” #skali lagi tentang seorang kanak-kanak  

Love's Secret

Sebenarnya aku tak ingin orang-orang tau, Seperti apa rasanya perihku Termasuk Kau.. Tapi bagaimanalah, aku ini wanita Perasaanku akan serta-merta menjelma, dalam setiap laku Pun setiap sel dari tubuh ini, tak pernah mengingkari tuannya Sekalipun diamku mencoba meredam Lidah, kukelu-kelukan Tapi apa yang bisa kulakukan pada mataku ? Apa yang bisa kulakukan pada tanganku ? Atau adakah yang bisa menahan langkah-langkah kakiku ? Aku punya banyak cara, untuk bersembunyi darimu Aku punya banyak cara merahasiakan cintaku Tapi aku tak punya cara menyembunyikan lukaku Diamku bisa membahasakannya Apatah lagi hatiku, yang tidak pernah mengkhianati tuannya