Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label CERPEN

Pelanggan Nomor 5

Oleh: Fatmawati Liliasari Ada sebuah warung kopi di salah satu kompleks pemukiman di kota kami. Sebuah warung kopi istimewa sebab tidak hanya menyajikan kopi, aneka minuman dan makanan ringan tetapi juga menyajikan buku-buku yang bisa dibaca namun tidak bisa dibawa pulang. Tempat itu belakangan menjadi rumah bagiku, tempat bekerja sekaligus belajar. Lalu belakangan kutahu, tempat ini adalah rumah bagi kenangan milik seseorang. *** Warung kopi ini selalu buka pukul 7 malam. Ketika napas-napas malam mulai menggeliat, para pekerja telah pulang ke rumah masing-masing, dan kehidupan malam baru saja dimulai. Aku bersiap-siap di meja kasir, mengambil salah satu buku yang terpajang rapi di dinding sambil menunggu pelanggan pertama datang. Dua hari belakangan warung kami kedatangan seorang pelanggan. Perempuan. Dia datang sendiri, menyungging senyum lantas membunyikan bel pemesanan di meja kasir. Sesuatu yang sebetulnya tidak perlu. Tapi perempuan itu memaksa. “Biar saja. Aku ...

Lilin-Lilin Pada Hari Ulangtahun*

Oleh : Fatmalilia Atha Azzahra Seharusnya oktober menjadi bulan yang istimewa, sebab di hari-hari pembukaan bulan ialah hari ulangtahunku. Meskipun tidak semua pria mau ambil pusing soal hari ulangtahun−aku juga sebenarnya tidak−hanya saja biasanya di tahun-tahun sebelumnya aku selalu dikelilingi banyak teman, banyak wanita, banyak pesta, dan banyak kesenangan. Kini, bahkan aku sendirian di bawah kelip lampu beraneka warna yang menjalari pohon-pohon ki hujan yang berjejer rapi di sepanjang tribun Pantai Seruni. Merah, hijau, kuning, lalu putih. Heh, aku membunuh waktu mencermati warna-warna lampu, berkelip berganti-ganti. Lalu-lalang manusia, pengunjung, calo makanan, tukang parkir, kepul asap dari tungku perapian, lalu cappucino hangat yang tinggal setengah gelas. Sesekali angin laut menelisik dingin menyapu leherku yang terbuka. Selamat ulangtahun. Kamu akan datang, bukan? Ada lilin-lilin dan kue mocca kesukaanmu Sebuah pesan singkat. Dari Airin. Gadis ...

Percakapan Dini Hari

Selamat malam Ar, atau bolehkah kuucapkan selamat pagi saja karena sayup-sayup kudengar kokok ayam telah membahana, jam sudah menunjukkan sebentar lagi mega fajar akan menyibak malam. Maaf bila kedatanganku mungkin mengganggu, memenggal istirahatmu yang nyenyak. Ini adalah dinihari kedua Ramadhan, hari kedua ritual suci makan sahurku. Dan aku sendirian, dalam kamar hijau kusam berukuran 3 x 4 meter, ranjang bertingkat dua yang hanya ada aku seorang. Tentu kau heran, tak biasanya Ramadhan penuh berkah dan kegembiraan ini kulewati seorang diri. Tapi begitulah kenyataannya sekarang. Ada hal-hal yang membuatku tak dapat pulang ke rumah melaksanakan puasa dan sahur bersama Mama, Ayah dan Adik-adikku. Mengingat kenyataan itu, aku tiba-tiba jadi ingat kau. Kamu tahu, setiap kali tengah malam di waktu paling hening aku teringat kau, saat itu seluruh sarafku mendadak menolak bekerjasama. Kesadaranku pulih dengan cepat, mataku bandel tak mau terpejam. Aku hanya teringat kau, dan ing...