Hujan telah membuat irama
rintik di atas genteng rumahku, tetesnya lalu mengalir mencium bumi. Retak.
Perca kembali menyatu. Ada yang lain lagi Kak, rintiknya samar-samar masih
berbisik namamu. Entahlah, aku masih merasakan keberadaanmu di antara geericik
manja.
Kuharap retaknya cepat
menyatu, karena aku benci genangan Kak. Sebenarnya aku menyukai hujan tak lebih
hanya untuk bermain kejar-kejaran. Tapi karenamu aku berubah menjadi
merindukannya, merindukan setiap butrinya menyapu wajahku, berbagi butir-butir
sejuknya untuk membasuh wajah letihku
Sore di himpunan, barusan dapat kabar dari salah satu adik angkatan yang setiap datang ke himpunan pasti selalu bawa surat, Viona namanya. Katanya Presiden BEM kita baru saja datang. Entah, beliau dari mana saja. Setelah nyaris dua minggu menghilang dari peredaran, meninggalkan sekretariat BEM yang sedang direnovasi, dan seabrek kegiatan penting lembaga. Betapa sering kami mempertanyakan kehadirannya minggu-minggu belakangan ini. Sebab di beberapa kesempatan, beliau selalu diwakilkan oleh wapresnya untuk memberi sambutan pada kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan himpunan-himpunan di Fakultas Pertanian. Tak terhitung berapa kali kegiatan yang tak 'sempat' beliau hadiri (atau memang tak pernah menyempatkan diri?) di himpunan saya sendiri tak pernah sekalipun kegiatan kami yang beliau tampil memberikan sambutan. Rasanya percuma menulis surat 'Kepada Yth. Presiden BEM KEMA FAPERTA UH ', sementara yang selalu hadir adalah wakilnya. Kenapa tak sekalian langsung mengundang Wak...
Komentar