Hujan telah membuat irama
rintik di atas genteng rumahku, tetesnya lalu mengalir mencium bumi. Retak.
Perca kembali menyatu. Ada yang lain lagi Kak, rintiknya samar-samar masih
berbisik namamu. Entahlah, aku masih merasakan keberadaanmu di antara geericik
manja.
Kuharap retaknya cepat
menyatu, karena aku benci genangan Kak. Sebenarnya aku menyukai hujan tak lebih
hanya untuk bermain kejar-kejaran. Tapi karenamu aku berubah menjadi
merindukannya, merindukan setiap butrinya menyapu wajahku, berbagi butir-butir
sejuknya untuk membasuh wajah letihku
Kamu tahu? Tidak ada wanita di dunia ini yang cukup sanggup untuk tidak menuntut status dan kejelasan. Karena dia harus memutuskan pada siapa hatinya yang satu dijatuhkan. Kamu tahu tidak? Setiap kali kamu bercanda soal 'kita', ada sejenis perasaan yang belum kudefenisikan muncul. Dadaku tiba-tiba nyeri, seluruh tubuhku nyeri. Seperti ada sesuatu yang kau ambil dariku. Aku sakit hati, tapi tidak tahu karena apa. Kamu tahu kan, kalau aku tidak pernah cukup mampu untuk mengutarakan perasaan lewat kata. Cuma nyaman mengutarakan segalanya dalam tulisan. Kalau aku diam ketika kau 'candai', boleh jadi saat itu aku sedang berjuang menguatkan diri, biar tak jatuh terduduk saking sakitnya. Ramsis, 14 Mei 2015
Komentar