Langsung ke konten utama

Hujan #2


Aku bahagia, seperti punya teman untuk bercerita dan ruang untuk sejenak merasakan lega, setelah beberapa hari terakhir kulitku gerah bahkan untuk menikmati suhu air conditioning 16̊ C yang dirasa sejuk oleh teman sekelasku. Waktu ketika mendung mulai menghamparkan selimut kelabu lalu menyalakan pelanginya.. rasanya seperti pertama kali bersalaman dengan hidup.
            Aku seperti ingin menerabas hujan, tetapi tak mungkin untuk saat ini, bahkan tidak untuk sekedar bersalaman dengan denting-denting gemericiknya dari jendela kaca mobil. Bukan Karena banyaknya kenangan yang disulam hujan untukku tetapi lebih karena ia kuasumsikan sebagai panghapus jejak-jejak rindu yang mengarah padamu.
            Aku sedang dalam perjalanan pulang kali ini, tidak untuk mencoba mencari jejakmu di lumpur becek. Tetapi untuk menuntun hujan ke tempat pertama kali ia berhasil menahanku bersamamu. Aku tidak akan memintanya untuk menghanyutkan jejakmu di tempat itu, hanya saja aku ingin hujan ini menahanku di sana sendirian sampai aku benar-benar yakin bahwa kala itu aku benar-benar berteduh sendirian, tidak ada kamu.
            Aku tidak hendak menghapus sekelumit hikmah yang terilhami dari pertemuan kita, hanya saja aku ingin belajar meluaskan hati dengan memahami bahwa setiap jejakmu tak pernah berhasil menemuiku..

#beberapa hari setelah hujan membasuhku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamu tahu nggak, sih?

Kamu tahu? Tidak ada wanita di dunia ini yang cukup sanggup untuk tidak menuntut status dan kejelasan. Karena dia harus memutuskan pada siapa hatinya yang satu dijatuhkan. Kamu tahu tidak? Setiap kali kamu bercanda soal 'kita', ada sejenis perasaan yang belum kudefenisikan muncul. Dadaku tiba-tiba nyeri, seluruh tubuhku nyeri. Seperti ada sesuatu yang kau ambil dariku. Aku sakit hati, tapi tidak tahu karena apa. Kamu tahu kan, kalau aku tidak pernah cukup mampu untuk mengutarakan perasaan lewat kata. Cuma nyaman mengutarakan segalanya dalam tulisan. Kalau aku diam ketika kau 'candai', boleh jadi saat itu aku sedang berjuang menguatkan diri, biar tak jatuh terduduk saking sakitnya. Ramsis, 14 Mei 2015

Laporan ilmu Tanah: Bulk Density

I. PENDAHULUAN 1.2 Latar Belakang Bobot isi tanah (Bulk Density) adalah ukuran pengepakan atau kompresi partikel-partikel tanah (pasir, debu, dan liat). Bobot isi tanah bervariasi bergantung pada kerekatan partikel-partikel tanah itu. Bobot isi tanah dapat digunakan untuk menunjukkan nilai batas tanah dalam membatasi kemampuan akar untuk menembus (penetrasi) tanah, dan untuk pertumbuhan akar tersebut. Nilai bulk density dapat menggambarkan adanya lapisan padat pada tanah, pengolahan tanahnya, kandungan bahan organik dan mineral, porositas, daya menggenang air, sifat drainase dan kemudahan tanah ditembus akar.   Besaran ini menyatakan bobot tanah, yaitu padatan air persatuan isi. Yang paling sering di pakai adalah bobot isi kering yang umumnya disebut bobot isi saja. Nilai bobot isi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya pengolahan tanah, bahan organik, pemadatan alat-alat pertanian, tekstur, struktur, dan kandungan air tanah. Nilai ini banyak dipergunakan da...

Presiden BEM KEMA FAPERTA UH, Dari Manaki'?

Sore di himpunan, barusan dapat kabar dari salah satu adik angkatan yang setiap datang ke himpunan pasti selalu bawa surat, Viona namanya. Katanya Presiden BEM kita baru saja datang. Entah, beliau dari mana saja. Setelah nyaris dua minggu menghilang dari peredaran, meninggalkan sekretariat BEM yang sedang direnovasi, dan seabrek kegiatan penting lembaga. Betapa sering kami mempertanyakan kehadirannya minggu-minggu belakangan ini. Sebab di beberapa kesempatan, beliau selalu diwakilkan oleh wapresnya untuk memberi sambutan pada kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan himpunan-himpunan di Fakultas Pertanian. Tak terhitung berapa kali kegiatan yang tak 'sempat' beliau hadiri (atau memang tak pernah menyempatkan diri?) di himpunan saya sendiri tak pernah sekalipun kegiatan kami yang beliau tampil memberikan sambutan. Rasanya percuma menulis surat 'Kepada Yth. Presiden BEM KEMA FAPERTA UH ', sementara yang selalu hadir adalah wakilnya. Kenapa tak sekalian langsung mengundang Wak...