Langsung ke konten utama

Sajak Yang Putih Buat En

Oleh : Fatmalilia Atha Azzahra

En, aku tidak tahu bagaimana caranya bersikap terhadapmu. Aku tidak paham mana batas-batas antara, sama tidak pahamnya seperti ketika aku melihat angka-angka. Tapi bukan berarti aku tak berusaha, En. Kamu mana pernah tahu bagaimana sulitnya aku mengatasi kecanggungan yang kerap kali muncul setiap kali kita berpapasan atau berada di ruangan yang sama. Kamu mana pernah tahu betapa sibuknya aku mendaftar berbagai pembicaraan ringan agar kamu tak merasa diabaikan olehku. Kamu mana pernah tahu kalau aku setiap hari senantiasa berusaha menahan diri agar tak mencari-cari kelabatmu.

En, aku diam karena tidak tahu bagaimana caranya menyikapi perasaanku. Aku diam lantaran ada begitu banyak tanda tanya mengelabat menunggu jawaban, ada begitu banyak perca-perca peristiwa juga kenangan yang menuntut uraian penjelasan. Dan lagi, ada begitu banyak luapan perasaan bercampur-baur, muncul berganti-ganti sampai tak kutemukan padanan kata untuk dapat menjelaskannya.


En, aku lebih banyak diam akhir-akhir ini biar dapat terus berpikir jernih, sebab emosiku sudah demikian teraduk-aduk, apatah lagi hatiku. Aku takut semua hal yang tersimpan di hati tumpah ruah bila bicara. Takut ada kata atau tingkah yang mungkin akan kusesali nantinya. Aku juga diam buat membujuk hatiku pelan-pelan biar dapat menerima. Agar setiap kali mengingatmu, yang muncul bukan lagi rasa sakit.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Presiden BEM KEMA FAPERTA UH, Dari Manaki'?

Sore di himpunan, barusan dapat kabar dari salah satu adik angkatan yang setiap datang ke himpunan pasti selalu bawa surat, Viona namanya. Katanya Presiden BEM kita baru saja datang. Entah, beliau dari mana saja. Setelah nyaris dua minggu menghilang dari peredaran, meninggalkan sekretariat BEM yang sedang direnovasi, dan seabrek kegiatan penting lembaga. Betapa sering kami mempertanyakan kehadirannya minggu-minggu belakangan ini. Sebab di beberapa kesempatan, beliau selalu diwakilkan oleh wapresnya untuk memberi sambutan pada kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan himpunan-himpunan di Fakultas Pertanian. Tak terhitung berapa kali kegiatan yang tak 'sempat' beliau hadiri (atau memang tak pernah menyempatkan diri?) di himpunan saya sendiri tak pernah sekalipun kegiatan kami yang beliau tampil memberikan sambutan. Rasanya percuma menulis surat 'Kepada Yth. Presiden BEM KEMA FAPERTA UH ', sementara yang selalu hadir adalah wakilnya. Kenapa tak sekalian langsung mengundang Wak...

Kamu tahu nggak, sih?

Kamu tahu? Tidak ada wanita di dunia ini yang cukup sanggup untuk tidak menuntut status dan kejelasan. Karena dia harus memutuskan pada siapa hatinya yang satu dijatuhkan. Kamu tahu tidak? Setiap kali kamu bercanda soal 'kita', ada sejenis perasaan yang belum kudefenisikan muncul. Dadaku tiba-tiba nyeri, seluruh tubuhku nyeri. Seperti ada sesuatu yang kau ambil dariku. Aku sakit hati, tapi tidak tahu karena apa. Kamu tahu kan, kalau aku tidak pernah cukup mampu untuk mengutarakan perasaan lewat kata. Cuma nyaman mengutarakan segalanya dalam tulisan. Kalau aku diam ketika kau 'candai', boleh jadi saat itu aku sedang berjuang menguatkan diri, biar tak jatuh terduduk saking sakitnya. Ramsis, 14 Mei 2015

Catatan Hati Seorang Kakak

Oleh: Fatmalilia Atha Azzahra Saya resah tiap kali pulang ke rumah dan mendapati adik-adik saya memelototi tayangan di TV yang menurut saya sama sekali tak menumbuhkan karakter baik. Iklan-iklan juga seolah-olah bersepakat mengamini. Masak iya, iklan minuman penambah energi modelnya penyanyi dangdut berpakaian superpendek menyanyi-nyanyi sambil mendesah manja. Astaga! Apa hubungannya minuman energi dengan desahan? Saya nyaris berteriak kesal ketika tak sengaja menonton cuplikan iklan tersebut. Ada juga film kartun yang saya temui. Slogan tokoh utamanya amat mengusik. Diceritakan bahwa tokoh utamanya adalah seorang bocah hiperaktif, cerdas, dielu-elukan banyak orang, dan dikenal dengan slogan “kerjakan cepat, lupakan yang lain!” Dalam kehidupan sehari-hari slogan itu mengajak lebih dekat pada sikap egois, individualis. Seolah-olah kehadiran orang-orang di sekitarnya akan menganggu kerja-kerjanya. Kerjakan cepat, lupakan yang lain . Kata-kata seperti ini nih yang bikin anak-...