Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan Kecil Tentang Luka

          Tadi siang pergelangan tanganku luka. Ada satu garis merah membujur sepanjang 1 cm di permukaan kulit nadiku. Luka itu kelihatannya masih baru, ada titik-titik darah mengering di sepanjang alurnya. Aku tidak ingat dimana dan kapan persisnya luka itu kuperoleh. Hanya saja, dilihat dari bentuknya, kalau tak salah itu luka bekas cakaran.        Tidak ada yang aneh soal luka bekas cakaran. Bukankah kita seringkali tanpa sadar telah melukai diri-sendiri? Yang luka itu baru kita sadari ada setelah muncul rasa perih akibat tersentuh air, tidak sengaja bersinggungan dengan perasan jeruk nipis, atau bahan-bahan kimia macam sabun dan pembersih muka.          Kupir ada yang menarik soal luka. Aku seringkali mendengar  komentar beberapa kawan yang pernah mengalami kecelakaan. Nyaris semua mengaku kalau mereka sama sekali tidak merasakan sakit atas luka ya...

Merindukan Masa Kanak-Kanak

Aku rindu masa kecilku.. Masa bermain rumah-rumahan tanah seorang diri di depan rumah bambu sederhana kami sambil menunggu Bapak pulang dari sawah. Tidak berapa lama Ibu akan bergabung denganku, di bale-bale di bawah teduh rumpun bambu. Ibu akan mengajariku membuat orang-orangan dari tanah liat lengkap dengan peralatan makannya. Piring-piring, cangkir, aneka sendok juga teko teh, semuanya dari tanah liat yang dibakar. Aku rindu masa kecilku..  Masa kecil penuh petualangan dan musim bermain. Kalau sedang libur pada musim hujan, aku dan sepupuku yang tomboy selalu ngacir ke sawah saban siang. Mulanya cuma bermain-main dan saling mengejar di pematang, lalu ke saluran air sampai baju kami basah dan kulit cemong terciprat lumpur. Biasanya sebelum pulang pada petang hari, aku dan sepupuku yang tomboy itu ngebolang mencari kerang sawah atau keong kecil-kecil berwarna hitam sampai bajuku penuh. Kedua jenis moluska itu adalah lauk favorit di kampung kami saat musim hujan. Jadi ...

Pada Suatu Petang..

Aku memandang lepas ke pelataran HIMTI yang nyaris setengahnya tertutupi pohon bebungaan bila dilihat dari sela daun mangga depan Himpunan, tempatku berdiri dan mengamati saat ini. Di bawah sana, berpuluh-puluh manusia sepertiku lalu-lalang dengan berbagai urusan. Bolak-balik memfotokopi, susah payah mengekori asisten agar sudi membuka laporan walau selembar. Tetapi ada juga yang duduk santai di sudut kantin mace, meningkahi gerimis sore ini dengan kepul hangat kopi dan uap kretek, malas masuk kelas sebab katanya dosen tidak pernah mengajarkan kebenaran. Puluhan pasang kaki di bawah sana, kaki yang sama seperti kakiku, sedang terseok-seok mengejar mimpi atau titipan harapan dari orangtua. Tidak semuanya berhasil tentu saja. ada beberapa yang berhasil keluar dari kampus dengan toga yang dipindahkan secara khidmat oleh tangan Yang Mulia Rektor, tetapi tidak sedikit yang keluar dengan selembar SK DO yang ditandatangani juga oleh tangan Yang Mulia Rektor. Aku tidak sengaja...

Siapa Bilang Aku Tidak Pernah Cemburu?

Aku pernah cemburu pada malam yang selalu berhasil membuatmu berjalan menjauh dariku. Aku pernah cemburu pada berbatang-batang kretek dan bergelas-gelas kopi yang selalu menemani setiap hela napasmu. Aku pernah cemburu pada berlembar-lembar kertas selebaran yang selalu kamu bawa kemana-mana. Aku pernah cemburu melihat potretmu dengan tawa lepas dikelilingi banyak orang tapi aku tidak ada di sana. Aku pernah cemburu pada sebuah nama yang pernah kamu igaukan saat kamu terbaring antara sadar dan tidak. Aku pernah cemburu pada hiruk-pikuk lingkar duniamu yang saban kali berhasil menempatkanku di posisi paling nanti dari seluruh daftar prioritas. Sebuah dunia yang aku berada jauh, jauh di luar lingkarannya. Mungkin kamu juga pernah cemburu pada berlembar-lembar kertas yang selalu penuh kutulisi banyak cerita, sebab aku lebih mempercayai kertas daripada bercerita padamu. Mungkin kamu juga pernah cemburu pada satu atau dua sajak yang makna sebenarnya hanya aku dan Tuhan yang tahu....

Dari Ar; Ini Aku

Aku bukan sang yang tampil gagah saban pagi dengan senyum cemerlang menyambutmu Aku bukan sang yang diam di kursi berpangku diri menunggumu Aku bukan sang yang senantiasa sedia berjalan bersisian denganmu Aku bukan sang yang berkoar-koar meneriakkan rindu ketika sekelabat saja kamu tak kutemukan Aku bukan sang yang jumpalitan mencari hati ketika malam bercengkerama dengan purnama Ini aku Hanya aku yang mencintai tanpa puisi Memberi sayang dalam selipan Menyuarakan rindu serta menyemat wajahmu dalam doa-doa Ini aku Hanya aku yang menginginkanmu tapi takut membuatmu tak bahagia Pada suatu pagi di sutu tempat bernama rindu

Tanpa Kamu

Oleh: Fatmalilia Atha Azzahra Kamu tahu rasanya kosong? Seperti lembaran buku, tergeletak di sisi tempat tidurku yang pernah kunamai rindu. Tanpa corak. Tanpa cerita. Tanpa rasa atau sekedar prasangka. Hanya kosong yang kadang-kadang memusingkan. Kamu pernah merasa kosong? Bangun di pagi hari tanpa tahu harus melakukan apa. Berjalan begitu saja. Berhenti ketika lelah. Terduduk lagi di depan lembaran buku yang kunamai rindu. Sepi. Sunyi juga rindu itu. Kamu pernah merasa kosong? Mendadak penaku macet. Tintanya habis. Kata-kata yang senantiasa berdesak-desakan ramai di kepala kini diam. Tanganku kebas. Menulis yang selalu menjadi hal yang membuatku damai, tiba-tiba menjadi hal tersulit. Ada cerita yang ingin kubagi. Ada bahagia yang ingin kusampaikan. Ada perasaan kosong yang ingin kuberitahu. Ada sedih yang ingin kutumpahkan. Tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Atau aku harus memulai dari mana. Kosong. Kata-kata timbul tenggelam. Aku tidak tahu apa yang h...

Padahal Baru Sehari..

Rasanya aneh, sebab tiba-tiba tidak ada lagi kamu yang kudapati sedang di depan laptop setiap pagi, menonton kartun kesukaanmu atau sedang sibuk mengerjakan banyak hal. Atau mendapatimu masih tidur padahal hari telah siang sebab kamu begadang semalaman. Rasanya aneh, tidak ada lagi kelabatmu di koridor jurusan. Tiba-tiba orang lain yang mengantarku pulang. Tiba-tiba tidak ada lagi ketukan sandal di sebelah kananku setiap kali berjalan. Tiba-tiba tidak ada lagi yang datang seenaknya meminum air di gelasku. Aku juga selalu kesulitan menghabiskan makanan sendirian. Sekarang yang menjadi penyangga hati tinggal beberapa lembar kertas dan pesan singkat. Rasanya aneh, tiba-tiba harus mengantarmu pergi untuk waktu yang lama. Banyak sekali yang ingin kukatakan di 29 menit sebelum kamu berangkat, tetapi dengan risiko menangis yang besar juga. Jadinya malah 29 menit yang singkat itu berlalu dalam diam. Bahkan kamu masih sempat-sempatnya ketiduran. Aku bukannya manja, hanya saja s...