Langsung ke konten utama

Hendak Kuberi Judul Apa Ini?

Oleh: Fatmalilia Atha Azzahra

Hal-hal seperti inilah yang kutakutkan. Pertukaran yang tidak seimbang. Bagaimana bisa sebuah pertemanan yang dulu terjalin begitu akrab, nyaris tanpa jeda buat dilalui sendiri-sendiri, kini terasa bagai angin lalu, kita seolah seperti orang asing satu sama lain. Kamu jadi enggan menyapaku, membalas sapaanku saja begitu berat hati. Padahal dulu aku nyaris merelakan segalanya buat kebaikan semua orang, agar segalanya baik-baik saja, agar pertemanan ini tetap pada tempatnya. Tanpa memperdulikan bagaimana aku.
Sampai saat ini aku tidak ingin ada yang berubah, tidak juga ingin kerelaan ini tercerabut satu-satu. Lantas bagaimana kini pandanganmu berubah mengenaiku? Aku tidak pernah berniat berlari mendekat padanya. Kalaupun kulakukan−berlari padanya−hal pertama yang menahanku adalah dirimu, juga pertemanan kita. Atau apakah gara-gara aku menulis?
Kamu paham kan, hanya dengan menulis aku mendapatkan kemerdekaan. Lantas kalau aku tidak jujur lagi dalam setiap huruf yang kutulis, di mana lagi aku dapat jadi diri-sendiri, di mana lagi aku akan dapatkan kemerdekaan? Atau mungkin kemerdekaan itu hanya tersisa satu? Yang berarti kemerdekaan bagimu adalah pengekangan bagiku. Dan kemerdekaanku tidak pernah menjadi kemerdekaanmu.

Ki, kamu boleh memakiku sepuasmu, boleh benci padaku semaumu. Tapi tolong jangan abaikan pertemanan kita. Pertukaran ini sungguh tidak seimbang, Ki.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Presiden BEM KEMA FAPERTA UH, Dari Manaki'?

Sore di himpunan, barusan dapat kabar dari salah satu adik angkatan yang setiap datang ke himpunan pasti selalu bawa surat, Viona namanya. Katanya Presiden BEM kita baru saja datang. Entah, beliau dari mana saja. Setelah nyaris dua minggu menghilang dari peredaran, meninggalkan sekretariat BEM yang sedang direnovasi, dan seabrek kegiatan penting lembaga. Betapa sering kami mempertanyakan kehadirannya minggu-minggu belakangan ini. Sebab di beberapa kesempatan, beliau selalu diwakilkan oleh wapresnya untuk memberi sambutan pada kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan himpunan-himpunan di Fakultas Pertanian. Tak terhitung berapa kali kegiatan yang tak 'sempat' beliau hadiri (atau memang tak pernah menyempatkan diri?) di himpunan saya sendiri tak pernah sekalipun kegiatan kami yang beliau tampil memberikan sambutan. Rasanya percuma menulis surat 'Kepada Yth. Presiden BEM KEMA FAPERTA UH ', sementara yang selalu hadir adalah wakilnya. Kenapa tak sekalian langsung mengundang Wak...

Kamu tahu nggak, sih?

Kamu tahu? Tidak ada wanita di dunia ini yang cukup sanggup untuk tidak menuntut status dan kejelasan. Karena dia harus memutuskan pada siapa hatinya yang satu dijatuhkan. Kamu tahu tidak? Setiap kali kamu bercanda soal 'kita', ada sejenis perasaan yang belum kudefenisikan muncul. Dadaku tiba-tiba nyeri, seluruh tubuhku nyeri. Seperti ada sesuatu yang kau ambil dariku. Aku sakit hati, tapi tidak tahu karena apa. Kamu tahu kan, kalau aku tidak pernah cukup mampu untuk mengutarakan perasaan lewat kata. Cuma nyaman mengutarakan segalanya dalam tulisan. Kalau aku diam ketika kau 'candai', boleh jadi saat itu aku sedang berjuang menguatkan diri, biar tak jatuh terduduk saking sakitnya. Ramsis, 14 Mei 2015

Kesalahan Terbesar Saya Ialah Karena Tulisan Saya Jelek

Oleh: Fatmawati Liliasari Nyaris tiga tahun saya jadi mahasiswa, enam kali sudah merasakan deg-degan menanti nilai muncul satu persatu di portal akademik. Tiga tahun! Tapi tidak pernah sekalipun saya mempermasalahkan apalagi menyesali nilai B, atau C sekalian. Saya beranggapan, berapapun nilainya, itulah pencapaian terbaik yang kita raih dari proses belajar kita selama satu semester. Tidak ada yang lebih patut dilakukan selain menerima dengan lapang dada, sembari terus-menerus memperbaiki diri. Sayangnya, ‘penerimaanku’ terhadap nilai menjadi berbalik sejak tadi sore, ketika kudengar salah seorang teman bertutur bahwa penilaian salah seorang dosen pertama-tama didasarkan pada bagus tidaknya tulisan kita. Yang artinya biarpun jawaban yang kau tulis bagus dan benar tapi tulisanmu jelek, maka nilaimu tidak akan lebih tinggi daripada temanmu yang tulisannya indah meskipun jawabannya asal-asalan, bahkan didapatkan dari usaha yang tidak jujur. Saya sedih, bukan semata-mata karen...